
(AP/Mohammad Hannon) Seorang bocah laki-laki Suriah ikut dalam pawai menuntut UNICEF melindungi anak-anak Suriah di depan Kompleks UNICEF di Amman, Jordania, Selasa (21/2).
Beirut, (Analisa). Pasukan pemerintah Suriah terus membombardir distrik-distrik bergolak di pusat perlawanan di Homs, Selasa (21/2).
Aksi keji pasukan rejim represif tadi menewaskan sedikitnya 16 orang dan menyulut kekhawatiran babak baru perang kota berdarah di negara yang nyaris terjerumus ke arah perang saudara besar-besaran.
Menurut para aktivis, pembombardiran gencar Bab Amr di Homs berlangsung beberapa jam tapi tidak terlihat sebagai awal ofensif militer dengan tujuan merebut kawasan-kawasan yang diduduki pemberontak di daerah pusat.
Dua dari 16 korban tewas adalah anak-anak, lanjut aktivis dengan memperingatkan bahwa Homs sudah menghadapi bencana kemanusiaan.
Pemboman dimulai setelah pasukan berulang kali berusaha menyerbu daerah pinggiran Baba Amr, ujar seorang aktivis di Homs.
"Pasukan pemerintah belum dapat bergerak maju karena pembelot memberikan perlawanan keras dari dalam," tegasnya kepada kantor berita Associated Press (AP).
Pada perkembangan lain dilaporkan, Rusia pada Selasa, mengatakan tidak akan menghadiri konferensi internasional di Tunis pekan ini yang bertujuan mengupayakan perubahan politik di Suriah karena pertemuan itu hanya mendukung perjuangan oposisi.
Pertemuan itu diselenggarakan "untuk tujuan mendukung satu pihak melawan pihak lainnya dalam satu konflik dalam negeri," kata kementerian luar negeri dalam satu pernyataan. "Kami tidak dapat menghadiri pertemuan ini."
Kelompok "Sahabat Suriah" akan bertemu untuk pertama kali Jumat setelah dibentuk untuk menanggapi veto bersama Rusia dan China atas resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam Presiden Bashar al-Assad atas aksi kekerasan di negara itu.
Kelompok itu didukung anggota Uni Eropa serta beberapa negara Arab dan AS.
Pernyataan Rusia itu mengatakan pertemuan itu tidak akan dapat membantu penyelenggaraan dialog antara pemerintah Bashar dan para pemrotes dalam usaha menghentikan aksi kekerasan 11 bulan itu, yang menurut sumber-sumber oposisi menewaskan lebih 6000 orang.
Undangan untuk menghadiri pertemuan di Tunis disampaikan ke sejumlah kelompok oposisi, tetapi wakil pemerintah Suriah tidak diundang, kata pernyataan itu. "Ini berarti kepentingan sebagian besar rakyat Suriah yang mendukung pemerintah tidak akan diwakili." (AP/es/Ant/AFP)