21
Mei
 
A A A
Aneka - Rabu, 22 Feb 2012 07:41 WIB
PARA bintang yang menenggak minuman whisky, anggur atau bir dalam sebuah film merupakan kekuatan tak terlihat tapi dahsyat dalam merangsang kalangan remaja untuk mencoba alkohol atau mendorong mereka minum jor-joran.
Masalah tersebut terungkap dalam sebuah besar di AS yang dipublikasikan pada Selasa (21/2). Kerap terekspos pada adegan-adegan konsumsi alkohol dalam film-film merupakan risiko lebih besar bagi remaja yang menenggak minuman keras daripada memiliki orangtua yang minum atau jika minuman keras mudah didapat di kediaman, tutur penelitian tadi.

Tercatat paling luas untuk pertama kalinya, penelitian tadi merupakan survei rahasia melalui telepon terhadap lebih 6.500 orang Amerika usia 10 hingga 14 tahun yang dipilih secara acak. Mereka kemudian diwawancara tiga kali lagi dalam dua tahun berikutnya.

Para remaja itu disurvei tentang film-film layar lebar yang mereka pernah tonton, apakah mereka minum alkohol atau memiliki barang dengan suatu merek minuman, dan juga ditanyai tentang kepribadian, sekolah dan kehidupan dalam lingkungan rumahtangga.

Ukur

Daftar 50 judul film yang digunakan dalam wawancara-wawancara tersebut diambil secara acak dari 500 film hits box-office saat ini atau beberapa waktu lalu, plus 32 judul film lain yang mencatat pemasukan sedikitnya 15 juta dolar ketika survei pertama dilakukan.

Para peneliti kemudian mengukur kadar eksposur terhadap alkohol dalam film-film, yang ditentukan oleh konsumsi minuman dan pembelian sesungguhnya atau bukan dari satu karakter.

Para remaja itu, ungkap periset, pada umumnya terekspos film-film demikian selama empat setengah jam. Banyak dari mereka menyaksikan eksposur demikian secara keseluruhan lebih delapan jam.

Selama dua tahun penelitian itu, jumlah responden yang mengaku mulai menenggak minuman keras naik dari 11 ke 25 persen. Proporsi yang mulai minum gila-gilaan naik tiga kali lipat dari empat jadi 13 persen.

Faktor Risiko

Dari 20 faktor risiko bagi kedua aktivitas ini, yang terbesar sebegitu jauh adalah tingginya penggunaan alkohol di antara sejawat para remaja tersebut. Namun tingginya eksposur alkohol dalam film merupakan faktor pendorong terbesar ketiga bagi remaja untuk mulai mencicipi minuman keras, dan terbesar keempat dalam faktor pemicu kelanjutan ke minum jor-joran.

Hal itu merupakan risiko yang jauh lebih besar daripada memiliki orangtua yang suka minuman keras, memiliki banyak uang saku, anak suka memberontak atau lantaran di rumah tersedia minuman keras.

"Terekspos alkohol dalam film tercatat 28 persen mendorong remaja mulai mencicipi alkohol dan 20 persen dalam transisi ke minum jor-joran," ungkap hasil studi tersebut.

Setelah memperhitungkan berbagai faktor pendorong, kalangan remaja yang paling banyak menonton film dengan adegan konsumsi alkohol tercatat dua kali lipat untuk mungkin mulai menenggak minuman keras dibanding mereka yang cuma sedikit menonton film beradegan demikian. Mereka juga 63 persen berpeluang lebih besar meningkat ke minum secara gila-gilaan.

Mengapa demikian?

"Penggunaan alkohol dalam film memang dibuat dalam situasi positif, tanpa efek negatif, dan kerap ditampilkan dengan merek-merek alkohol yang memperkuat hubungan remaja dengan minuman dan kesetiaan pada merek tertentu," ungkap studi itu.

"Kemampuan mendapatkan barang bermerek, suatu kemasan lengkap dengan merek alkoholnya, memuluskan proses ini."

Penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal online, BMJ Open. Riset itu dipimpin oleh James Sargent, seorang profesor dari Dartmouth Medical School di New Hampshire.

Dia menegaskan, kini sudah saatnya untuk mempertimbangkan pembatasan.

Enampuluh satu persen dari film Hollywood menggunakan penempatan produk merek tertentu, papar para periset. Para produser tidak dapat menggunakan tembakau dalam penempatan itu dan belum menghadapi pembatasan tentang alkohol.

Berbagai pengamat kesehatan hendaknya prihatin, dan tidak saja di AS, lanjut para periset.

Lebih separuh dari pendapatan Hollywood berasal dari distribusi film-filmnya di luar negeri, terutama di Eropa, Jepang, Kanada, Australia, Brazil dan Korea Selatan.  (afp/bh)
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris