Jakarta, (Analisa). Direktur Central for Banking Crisis (CBC) Deni Ahmad Daruri berpendapat, pada saat ini seluruh komisioner Otoritas Jasa Keuangan tidak diisi kalangan bankir karena akan diragukan independensinya dalam berkoordinasi dengan otoritas moneter dan fiskal.
"Masa transisi OJK sangat rentan dengan intervensi pihak manapun, sehingga perlu penguatan dalam menjaga independensi sebagai kunci utama lembaga untuk berkoordinasi dengan otoritas moneter dan fiskal. Sehingga pengawasan bank akan lebih terjaga," ujar Deni kepada pers di Jakarta, Rabu (22/2).
Deni menilai, hadirnya nama-nama bankir seperti, Wakil Direktur Bank Mandiri Riswinandi, Komisaris Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Peter Benyamin Stok, dan Komisaris Independen Bank Tabungan Negara (BTN) Deswandhy Agusman dalam bursa Dewan Komisioner OJK justru akan melemahkan independensi dan menyulitkan OJK untuk berkoordinasi.
"Logikanya bagaimana seorang bankir aktif masuk OJK dan setelah itu mengawasi lembaga keuangan yang notabene bekas banknya sendiri. Ini perlu diperhatikan," kata Deni.
CBC berharap, Pansel OJK bisa mempertimbangkan dampak domino dari masuknya calon dari perbankan ke OJK, meski secara aturan itu dibolehkan. Tetapi yang paling utama, Deni menambahkan, bagaimana menjaga lembaga baru ini lepas dari intervensi luar.
Dia mengatakan bahwa untuk masa transisi saat ini sebaiknya kursi OJK itu diisi oleh orang@Bank Indonesia (BI) dan Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
"Saya berharap ketua OJK nanti bisa dipimpin dari bank sentral, wakilnya dari pasar modal, sedangkan anggotanya sebagian diambil dari BI dan Departemen Keuangan," ujarnya. (Ant)