22
Mei
 
A A A
Ekonomi - Kamis, 23 Feb 2012 00:17 WIB
Jakarta, (Analisa). Pemerintah mengisyaratkan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan akan membicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat untuk membahas hal tersebut.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka sidang kabinet di Kantor Presiden Jakarta, Rabuu (22/2) mengatakan opsi menaikkan harga BBM bersubsidi dibicarakan dalam rapat terbatas sebelum sidang kabinet paripurna terkait perkembangan situasi internasional yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Saya sudah ambil keputusan dan direktif(pedoman,red) untuk ditindaklanjuti. Dari apa yang berkembang, maka konstruksi kebijakan yang kita tempuh jangka menengah dan panjang konversi bbm ke bbg terus dilakukan, harga bbm mau tidak mau mesti disesuaikan dengan kenaikan yang tepat, masyarakat yang terdampak atas kenaikan bbm itu, inflasi lain, masyarakat miskin, mesti kita beri bantuan langsung, apakah seperti dulu, atau dimodifikasi mana yang paling tepat," kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan dengan perkembangan situasi saat ini terutama kenaikan harga minyak mentah dunia, maka pemerintah akan mengajukan usul ke DPR untuk mempercepat pembahasan APBN Perubahan yang semula biasanya dibahas pada pertengahan tahun menjadi dalam waktu dekat.

"Kita juga masih bahas dan rumuskan, seperti apa yang akan kita tempuh dalam APBN-P sebagai payung atau policy dasar, termasuk subsidi dan BBM, kita bekerja penuh saya minta terpadu, di Kantor Menko Perekonomian bikin desk, Wapres saya tugaskan supervisi dan pimpin pertemuan tertentu agar yang kita lakukan ini bisa jadi solusi.

Itu yang kita bahas tadi dalam ratas, dan ini mesti kita ambil. Kita pernah naikkan harga BBM tiga kali dalam sejarah meski pernah menurunkan tiga kali. Kita ketahui kompleksitas dan permasalahan dan apa yang mesti dilakukan. Insya Allah bila itu dijalankan dengan baik melalui kebijakan yang tepat dan sungguh pertimbangkan apa yang bisa berdampak pada rakyat kita," kata Presiden.

Meski demikian sebelum adanya rapat dan pembahasan dengan DPR maka opsi tersebut masih dalam pembahasan dan bila diputuskan nanti tentunya hal tersebut merupakan yang terbaik bagi rakyat.

"Khusus yang pertama tadi masih dalam perencanaan nanti saat setelah kita rumuskan dengan baik maka kita tetapkan sebagai kebijakan. sebetulnya sudah dibicarakan minggu-minggu ini, banyak yang sarankan, sesuaikan saja harga yang pantas, apa yang diputuskan nanti itulah keputusan yang terbaik," tegasnya.

Janjikan Bantuan kepada Orang Miskin

Presiden SBY menyatakan kenaikan harga BBM subsidi tak bisa dihindari karena melonjaknya harga minyak dunia. SBY menjanjikan bantuan langsung kepada masyarakat miskin ketika harga BBM naik.

Hal ini disampaikan SBY saat membuka rapat paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/2).

"Masyarakat yang terdampak pada kenaikan BBM itu serta inflasi yang lain utamanya masyarakat yang miskin mesti kita berikan bantuan langsung sementara," ujar SBY.

Dikatakan SBY, pemerintah sedang memikirkan bantuan apa yang akan diberikan untuk masyarakat miskin ketika harga BBM subsidi naik.

"Bantuannya bisa kita pikirkan yang dulu pernah kita lakukan atau kita modifikasi atau tambahan-tambahan baru yang itu memang tepat," tegas SBY.

Dikatakan SBY kenaikan harga BBM subsidi tak bisa dihindari karena harga minyak internasional saat ini rata-rata sudah tembus US$ 115 per barel, atau di atas perhitungan APBN 2012 yang sebesar US$ 90 per barel.

"Hari demi hari saya ikuti semua yang ada di televisi internasional dan kecenderungannya terus naik. Apalagi dua tiga hari yang lalu Iran telah memnghentikan ekspor minyaknya ke dua negara di Eropa, Uni Eropa. Dan Amerika telah memberikan sanksi kepada Iran, dan inilah salah satu titik didih yang mengakibatkan sentimen demikian negatifnya sehingga mengakibatkan harga minyak naik," tutur SBY. (Ant/dtc)
Baca Juga Artikel Berita Terkait
Senin, 21 Mei 2012 06:42 WIB
Untuk Pertama Kali
Minggu, 20 Mei 2012 02:41 WIB
Jelang Pelantikan Masa Bakti Kedua Presiden Ma
Iklan
 
Berita Terpopuler
Resensi Film
Iklan Baris