M. NAZARUDDIN dan Angelina Sondakh adalah dua nama yang paling populer saat ini. Kalau dilakukan survei atau jajak pendapat, mungkin popularitas keduanya mengalahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun popularitas atau keterkenalan yang diraih keduanya bukan karena prestasi atau sesuatu yang sifatnya positif, melainkan karena kasus korupsi.
Seperti diketahui, M Nazaruddin adalah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat dan juga mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Sementara Angelia Sondakh adalah Wakil Sekretaris Partai Demokrat dan sekarang masih anggota DPR RI. Keduanya diduga kuat terlibat dalam kasus suap pembangunan Wisma Atlet dan kasus-kasus lainnya.
Di samping nama mereka berdua, nama-nama lain juga banyak disebut terlibat dalam kasus suap Wisma Atlet. Umumnya nama-nama yang disebut kalau tidak pengurus partai adalah anggota dewan atau mantan anggota dewan. Kemudian dalam kasus lain, seperti suap pemilihan Deputi Bank Indonesia Miranda Gultom, kasus Bank Century dan lainnya, yang diduga terlibat, maupun telah dijatuhi vonis oleh hakim , sebagian besar adalah anggota dewan.
Anggota dewan adalah wakil rakyat. Wakil rakyat artinya seseorang yang dipilih oleh rakyat untuk mewakili kepentingan mereka. Namun kenyataannya, apabila melihat berbagai kasus yang ada seperti yang disebut di atas, para wakil rakyat tersebut malah menipu rakyat. Kenapa dikatakan menipu rakyat? Bukankah uang yang mereka korupsi itu seharusnya untuk kepentingan rakyat? Uang yang harusnya untuk membangun jalan, gedung, rumah sakit dan fasilitas publik lainnya, sebagian masuk ke kantong anggota dewan yang terhormat tersebut.
Dalam kondisi seperti ini kita akan kembali teringat dengan lagu ‘Wakil Rakyat’ yang diciptakan sekaligus dinyanyikan oleh Virgiawan Listanto alias Iwan Fals. Lagu yang sangat populer 20 tahun lalu itu, masih relevan hingga saat ini. ‘Wakil rakyat harusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat’. Demikian salah satu bait dari lagu tersebut. Kalau hanya sekadar ‘tidur’ saat sidang mungkin masih mendingan. Tapi yang terjadi, mereka bersidang di dalam ruang yang sangat mewah-- bahkan saat ini ruang Badan Anggaran (Banggar) DPR RI termasuk ruang yang paling mahal di dunia--namun yang dibicarakan bagaimana membagi-bagi uang tersebut agar bisa masuk ke dalam kantong mereka sendiri!
Sangat ironis sekali. Tapi itulah yang terjadi. Dulu, dalam rezim yang lebih otoriter kita tidak bisa berharap banyak kepada para anggota dewan, karena kekuasaan mutlak berada di tangan eksekutif (pemerintah). Ketika angin reformasi berhembus, kita sangat berharap kepada para wakil rakyat. Awalnya, harapan itu memang ada. Tapi dengan kekuasaan yang lebih besar, mereka melakukan ‘aksi balas dendam’ dengan menyikat uang rakyat.
Tidak mengherankan jika kemudian berbagai survei yang dirilis menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat kepada wakil rakyat dan partai politik. Masuk akal memang. Bagaimana kita percaya pada wakil rakyat jika kelakukannya seperti itu. Tidak hanya di pusat saja (DPR), di daerah juga (DPRD) praktik seperti itu, terjadi.
Permasalahan ini tidak terlepas dari kesalahan kita sebagai rakyat (pemilih). Hanya karena iming-iming lima kilogram beras plus dua kilogram gula dan minyak goreng, kita memilih seseorang yang track record-nya tidak baik. Kita tidak menyadari bahwa apa yang mereka berikan itu merupakan ‘investasi’ yang harus menghasilkan laba berlipat. Dan laba itu merupakan hak kita atau hak rakyat.
Kejadian seperti ini bukan kali ini saja terjadi, tapi sudah berulang kali. Sayangnya kita tidak pernah sadar. Kalaupun sadar ketika permasalahannya masih marak seperti sekarang. Tapi ketika persoalannya sudah ‘dingin’, kita akan lupa dan kembali menerima iming-iming yang hanya sekadarnya. Dampaknya, selama lima tahun kemudian kita akan ‘dihisap’ secara berlahan oleh mereka.
Memang kita saat ini merupakan ‘bangsa pelupa’. Karena itu ke depan atau ketika menghadapi pemilihan umum, apakah legislatif ataupun kepala daerah sebaiknya, penyakit lupa itu ‘diobati’ sehingga dapat memilih wakil yang benar-benar amanah atau dapat dipercaya.