Medan, (Analisa). Salah satu penyebab tingginya warga Sumatera Utara berobat ke luar negeri, disebabkan pelayanan kesehatan di daerah ini belum memadai.
Demikian dikatakan Plt Gubsu Gatot Pujonugroho usai membuka seminar perumahsakitan dan Musda Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) Sumut, di Hotel JW Marriot, Medan, Rabu (22/2).
"Masih banyaknya orang dari Sumut yang berobat ke luar negeri. Satu catatan karena rumah sakit kita belum memiliki akreditasi internasional," ucap Gatot.
Menurutnya, seminar perrumahsakitan tersebut diharapkan dapat membenahi sistem pengelolaan pada pasien, sehingga pasien tidak berobat lagi ke luar negeri.
"Kalau dilihat dari segi dokternya, saya yakin tidak kalah dibanding luar negeri. Bahkan beberapa dosen USU mengajar di luar negeri contohnya di Malaysia. Tapi ini sering saya dengar adalah pelayanan di rumah sakit, karena sugesti adalah sebagian dari proses penyembuhan. Orang yang sakit dilayani dengan baik itu adalah sudah merupakn proses dari penyembuhan," kata Gatot.
Dia menambahkan, yang harus terus ditingkatkan adalah peralatan dan pelayanan, kalau kompetensinya dia yakin tidak kalah dengan negara lain.
Dia juga menyinggung soal, peralatan medis yang bisa menimbulkan radiasi, seperti radiologi CT Scan dan lainnya. Peralatan itu, berefek radiasi baik bersifat determedistik dengan keparahan yang bisa terlihat dan radiasi besar yang bisa melepuhkan hingga bisa menimbulkan kematian.
Keparahannya bisa terjadi beberapa tahun kemudian berupa penyakit genetik. Untuk itu, operasional peralatan itu di rumah sakit harus dilakukan dengan baik. Kalau tidak, bisa terjadi lost generation karena efek tersebut karena munculnya penyakit genetik.
Persoalan ini, katanya, terkait dengan akreditasi rumah sakit. Untuk itu, peralatan medis yang bisa menimbulkan sumber radiasi harus ada sertifikasi dari pihak kompeten yakni badan pengawas tenaga nuklir (Bapeten).
"Ini untuk generasi penerus kita di masa mendatang. Kita takut generasi kita bisa menyimpan persoalan karena efek radiasi. Pemilik rumah sakit yang punya alat tersebut dimintakan untuk melakukan sertifikasi dari Bapeten ," ucapnya.
Pelayanan setara
Ketua PERSI Sumut dr Sjahrial R Anas MHA, dengan akreditasi internasional diharapkan dapat memberikan pelayanan setara dengan luar negeri sehingga dapat membendung masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri.
Hal senada juga dikatakan Ketua PERSI Pusat Dr dr Sutoto MKes. Rumah sakit di Indonesisa harus terus meningkatkan mutu pelayanan terus menerus, karena di luar negeri terus berkembang dengan pesat.
"Jadi harus mengikutiperkembangan itu, karena kalau tidak RSIndonesia bisa ditinggalkan oleh para pasien pasien. Karena itu upayayang harus dilakukan peningkatan mutu, dan seluruh RS Indonesia harus melalui akreditasidan akan kelihatan mutunya yang semakin meningkat dan diperkaya oleh masyarakat Indonesia dan dipercaya internasional.
Di Indonesia sendiri, katanya, baru 6 rumah sakit yang memperoleh akreditasi internasional itupun di Jakarta, Bandung. Dia mengharapkan RSUP H dam Malik segera mendapat akreditasi internasional.
Umumnya masyarakat berobat ke LN masalahnya bukan pada tenaga medis karena banyak tenaga medi kita yang dipake di sana, tetapi tenaga medis Indonesia dipakai RS luarnegeri. Tetapi bagaimana dunia perumahsakitan ini mengikuti standar internsioanl sehingga input dan outputnya bagus. "Makanya RS harus didorong untuk akreditasi," ucapnya.
Jumlah RS di Indonesisa lebih 1800 dan ini dengan berbagai tingkatan mutu dan tidak semua harus memiliki standar seperti di luar negeri. Sebenarnya di luar negeri pun tidak semua rumah sakit bagus-bagus standarnya, karena costnya mahal.
Sementara, Musda Persi Sumut baru menghasilkan Formatur untuk memilih kepengurusan baru. Belum diketahui siapa bakal pengganti Syahrial R Anas MHA. Namun menurut informasi, nama Direktur RSUP H Adam Malik dr Azwan Hakmi Lubis SpA MKes paling santer disebut-disebut menjadi Ketua Umum Persi Sumut mendatang. (nai)